Jumat, 30 April 2010

Endah N Rhesa bermusik untuk bahagia

“Musik setelah dipelajari mengandung nilai-nilai, simbol, ilmu, bahkan misteri yang membuat kita tersadar.. bahwa pengetahuan kita masih belum seberapa dibanding apa yang telah ada.. Musik nggak hanya rock, blues, jazz, klasik.. tapi juga karakter, pulse rythm, melodi, harmoni... sejarah.. latar belakang.. yang mempengaruhi komposer dalam menciptakan sebuah karya.. bahkan saya, selaku songwriter, juga komposer.. mengakui bahwa di balik sebuah karya terdapat banyak hal diluar teori dan logika yang (mungkin) hanya bisa dimengerti oleh komposer itu sendiri... Namun, apabila musik kita dimainkan orang lain dan dimainkan secara indah.. maka komposer pun akan merasa dihargai dan sebuah kebahagiaan yang tak dapat dinilai oleh apa pun..” tulis wanita bernama Endah Widiastuti tahun 2007 dalam blognya yang berjudul I'm in Love with Classical Music.


EndahNrhesa, dua musisi unik yang mengeksplorasi vokal, gitar, dan bass menjadi musik yang ciamik dan menarik. Nama endahNrhesa sendiri diambil dari nama Endah Widiastuti (vocal, guitar player) dan Rhesa Aditya (Bass Player, music director). “Nama itu indentitas, jadi gua dan endah lebih suka pake nama kita sendiri. Terus kenapa ada huruf ‘N’ nya? dulu waktu kita jaman SMP-SMA kan ada bilangan variabel, jadi itu bisa diisi angka apa aja dan itu bisa jadi pemisah antara endah dan gua” ujar Rhesa yang ditemui di salah satu gelaran universitas swasta di Bandung.

Musik rasanya bukan hal yang baru bagi Endah dan Rhesa pasalnya sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan berbagai jenis musik, hingga pertemuan di tahun 2003 menjadikan Endah dan Rhesa membentuk suatu band Rock dengan format full. “Gue nyanyi sambil main gitar elektrik genre rock and roll –blues gitu, pengennya sih kaya dewiq” Ujar Endah. Setelah keduanya memutuskan hengkang dari band, Endah dan Rhesa membuat konsep baru dalam musiknya, “Gue sama rhesa pernah liat bonita di sebuah kafe, dia cuma main berempat dan keren banget, akhinya kata rhesa gimana kalo kita berdua aja akustikan” tambah wanita kelahiran 4 mei 1983 ini.


Bersinarnya nama endahNrhesa di industri musik Indonesia terbukti dari Album “Nowhere To Go” yang mendapat respon positif dari para penikmat musik, bahkan kini penjualannya sudah lebih dari 15.000 copy. Hal ini tak ayal menimbulkan pertanyaan, mengapa endahNrhesa lebih memilih jalur indie dibanding mainstream?, “Indie juga masuk label” ujar Endah diiringi tawa renyahnya. “Beda indie dan major, lebih di semangatnya sih bukan musiknya. Dari dulu CD pertama kita rekam sendiri, nge-print sendiri, copy sendiri,. jadi modalnya CD writer sama cari kotak CD di glodok waktu itu.”papar Rhesa. “Bukannya kita anti major atau apa, tapi sampai saat ini kita masih nyaman mengerjakan itu semua sendiri dan sebenernya kita pengen lebih banyak ke proses belajar kalo memang suatu saat kami ditawari major label dengan good deal yang membuat kami nyaman, why not? tapi bukan semata-mata untuk popularitas dan uang. maksudnya bukan untuk itu.“tambah Endah. Lantas, apa alasan keduanya dalam bermusik? “kami bermusik untuk bahagia” ujar Endah dan Rhesa kompak.

Semakin banyaknya band baru di Indonesia baik mainstream ataupun non-mainstream, membuat endahNrhesa semakin optimis akan perkembangan musik di Indonesia. “Be original, kreatif, unik, dan inovatif. Semakin kalian berbeda dengan orang lain semakin bagus tapi juga harus banyak belajar hal-hal yang baru. Kita coba untuk konsisten dan jangan nyerah dan menyadari industri musik ini sangat berat” pesan endah di akhir wawancara. Semoga dengan hadirnya endahNrhesa dapat memberikan warna baru di belantika musik Indonesia. –astri-


twitter : endahNrhesa
facebook : Endah N Rhesa
official website : www.endahnrhesa.com




to : endahNrhesa 
mbak, mas.. makasih buat sesi wawancaranya yang sangat menyenangkan..

Jumat, 23 April 2010

vest




Rompi (vest) pertama kali diperkenalkan di Inggris oleh Raja Charles II pada 7 Oktober 1666. Sejak saat itu, vest sering digunakan untuk acara-acara yang formal. Seiring berjalannya waktu, vest dapat dipakai dalam berbagai acara baik formal ataupun non formal Kini, Bukan hanya kaum pria saja yang biasa memakai vest tapi wanita menjadikan vest sebuah trend fashion.. vest, kini juga lebih bervariasi dan kreatif dalam segi desain.

 

jalur musik independent di Indonesia


Perkembangan musik di indonesia semakin hari semakin menggeliat. Genre musik yang beragam dan jumlah band baru yang meningkat secara signifikan adalah salah satu cirinya. Tidak dapat dipungkiri, selera musik masyarakat Indonesia pun kini lebih berani dan beragam, mulai dari pop melayu hingga metal. Grup band pun kini tidak hanya dikenal dari naungan major label. Kreatifitas anak muda masa kini dengan segala idealismenya, lebih memilih mengenalkan musik mereka dari jalur independent atau lebih dikenal dengan musik indie.

“Saya lebih suka indie dong. Musiknya masih murni dari musisinya langsung, kalo mainstream kan ada campur tangannya. saya suka rock n roll mafia, white shoes and the couples company, frau, sama bottlesmoker” ujar febrina, penikmat musik indie.

Mainstream adalah sebuah jalur musik, dimana band-band berada dalam naungan major label yang mapan. oleh karena itu, dilihat dari segi promosi band mainstream lebih mendominasi dalam berbagai bentuk  media publikasi baik cetak ataupun elektronik.  “Perbedaan indie dan major sih lebih ke semangatnya bukan ke jenis musiknya” tutur Rhesa Aditya, personil dari endahNrhesa. Band indie lebih memilih cara yang lebih kreatif dan tidak biasa dalam mempromosikan karya mereka. Bahkan tidak jarang mereka turun tangan untuk menempelkan langsung poster dan flyer dari show mereka. Band-band mainstream dan band indie, secara kualitas dan talenta dapat bersaing bahkan tidak jarang band indie lebih bagus daripada band mainstream.

Perkembangan band indie di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970an. Cikal bakal musik indie antara lain diawali dengan Godbless, AKA, Bentoel, dll. Namun dalam perkembangannya indie lebih populer pada tahun 1990an dengan munculnya PAS Band pada tahun 1993. Berbeda dari 10 tahun yang lalu, kini teknologi yang semakin canggih menjadi sarana ampuh dalam publikasi band  indie. Internet menjadi salah satu senjata jitu dan memberikan kontribusi yang besar dalam memperluas jaringan antar sesama komunitas di Indonesia. Banyak media sosial yang dapat dijadikan media publikasi contohnya MySpace dan facebook. Bahkan menjamurnya distro dijadikan sebagai suatu momentum dalam memperluas publikasi.

Banyak Band Indie yang sekarang laris manis di industri musik indonesia tanpa menghilangkan idealisme yang dimilikinya bahkan telah memiliki fan base yang besar, sebut saja Mocca, Naif, Ten2five, Seringai, White Shoes and The Couples Company, endahNrhesa dan masih banyak lagi. Tidak sedikit pula band indie yang sekarang didukung major label. Secara tidak langsung ini dapat dijadikan cikal bakal dari musik mainstream dengan aroma baru.

“Dulu saya suka The Changcuters waktu masih indie, tapi kok setelah masuk major label musiknya jadi sedikit beda ya? jadi terasa enggak sebebas pas masih indie” ujar Marisa, seorang mahasiwa. Ditengah serunya perdebatan indie label dan major label puluhan band baru pun bermunculan serta puluhan indie label ramai- ramai merilis album. Terlepas dari kepentingan bisnis dalam bermusik, baik indie ataupun mainstream tetap saja berdasar pada satu tujuan yaitu memperkaya pendengaran masyarakat Indonesia dalam musik. Be creative and original untuk musik indonesia.  –astri-