
Perkembangan musik di indonesia semakin hari semakin menggeliat. Genre musik yang beragam dan jumlah band baru yang meningkat secara signifikan adalah salah satu cirinya. Tidak dapat dipungkiri, selera musik masyarakat Indonesia pun kini lebih berani dan beragam, mulai dari pop melayu hingga metal. Grup band pun kini tidak hanya dikenal dari naungan major label. Kreatifitas anak muda masa kini dengan segala idealismenya, lebih memilih mengenalkan musik mereka dari jalur independent atau lebih dikenal dengan musik indie.
“Saya lebih suka indie dong. Musiknya masih murni dari musisinya langsung, kalo mainstream kan ada campur tangannya. saya suka rock n roll mafia, white shoes and the couples company, frau, sama bottlesmoker” ujar febrina, penikmat musik indie.
Mainstream adalah sebuah jalur musik, dimana band-band berada dalam naungan major label yang mapan. oleh karena itu, dilihat dari segi promosi band mainstream lebih mendominasi dalam berbagai bentuk media publikasi baik cetak ataupun elektronik. “Perbedaan indie dan major sih lebih ke semangatnya bukan ke jenis musiknya” tutur Rhesa Aditya, personil dari endahNrhesa. Band indie lebih memilih cara yang lebih kreatif dan tidak biasa dalam mempromosikan karya mereka. Bahkan tidak jarang mereka turun tangan untuk menempelkan langsung poster dan flyer dari show mereka. Band-band mainstream dan band indie, secara kualitas dan talenta dapat bersaing bahkan tidak jarang band indie lebih bagus daripada band mainstream.
Perkembangan band indie di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970an. Cikal bakal musik indie antara lain diawali dengan Godbless, AKA, Bentoel, dll. Namun dalam perkembangannya indie lebih populer pada tahun 1990an dengan munculnya PAS Band pada tahun 1993. Berbeda dari 10 tahun yang lalu, kini teknologi yang semakin canggih menjadi sarana ampuh dalam publikasi band indie. Internet menjadi salah satu senjata jitu dan memberikan kontribusi yang besar dalam memperluas jaringan antar sesama komunitas di Indonesia. Banyak media sosial yang dapat dijadikan media publikasi contohnya MySpace dan facebook. Bahkan menjamurnya distro dijadikan sebagai suatu momentum dalam memperluas publikasi.
Banyak Band Indie yang sekarang laris manis di industri musik indonesia tanpa menghilangkan idealisme yang dimilikinya bahkan telah memiliki fan base yang besar, sebut saja Mocca, Naif, Ten2five, Seringai, White Shoes and The Couples Company, endahNrhesa dan masih banyak lagi. Tidak sedikit pula band indie yang sekarang didukung major label. Secara tidak langsung ini dapat dijadikan cikal bakal dari musik mainstream dengan aroma baru.
“Dulu saya suka The Changcuters waktu masih indie, tapi kok setelah masuk major label musiknya jadi sedikit beda ya? jadi terasa enggak sebebas pas masih indie” ujar Marisa, seorang mahasiwa. Ditengah serunya perdebatan indie label dan major label puluhan band baru pun bermunculan serta puluhan indie label ramai- ramai merilis album. Terlepas dari kepentingan bisnis dalam bermusik, baik indie ataupun mainstream tetap saja berdasar pada satu tujuan yaitu memperkaya pendengaran masyarakat Indonesia dalam musik. Be creative and original untuk musik indonesia. –astri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar